Penelusuran Paten (Prior Art Search): Cara Cek Teknologi di Google Patents & Patentscope
Ringkasan (TL;DR)
Prior art search membuktikan bahwa invensi belum pernah diungkapkan sebelum tanggal filing — syarat kebaruan wajib di UU No. 13 Tahun 2016. Prior art mencakup tiga kategori: dokumen paten, literatur non-paten, dan pengungkapan publik. Penelusuran wajib dilakukan di minimum tiga database: Google Patents (global, gratis), Patentscope WIPO (PCT internasional), dan PDKI DJKI (paten nasional Indonesia). Hasil penelusuran menentukan apakah klaim diajukan, dimodifikasi, atau strategi perlindungan dialihkan.
Butuh Bantuan Langsung?
Temukan profesional terdekat dari lokasi Anda.
Cari Konsultan HKI📑Daftar Isi Artikel (14 Bagian)▼
Penelusuran prior art adalah langkah wajib sebelum Anda mengajukan pendaftaran paten ke Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI). Prior art search membuktikan bahwa invensi Anda belum pernah diungkapkan kepada publik sebelum tanggal filing — inilah syarat utama kebaruan (novelty) yang diatur UU No. 13 Tahun 2016 Pasal 3. Tanpa penelusuran ini, Anda berpotensi membuang biaya pemeriksaan substantif untuk invensi yang secara teknis sudah ada di domain publik.
Apa Itu Prior Art dan Mengapa Penelusuran Paten Wajib Dilakukan Sebelum Mendaftar?
Prior art mencakup semua pengetahuan yang sudah ada di domain publik sebelum tanggal filing permohonan paten Anda. Pengetahuan ini tidak hanya berbentuk dokumen paten — cakupannya jauh lebih luas dari yang banyak inventor bayangkan.
Prior art terbagi ke dalam tiga sub-kategori yang berbeda secara fundamental:
1. Dokumen Paten — Mencakup permohonan paten yang sudah dipublikasikan, paten yang telah diberikan, dan permohonan PCT yang masuk ke fase nasional. Dokumen paten bersifat terstruktur, berisi klaim, deskripsi, dan gambar teknis yang dapat dibandingkan langsung dengan invensi Anda.
2. Literatur Non-Paten — Mencakup jurnal ilmiah, prosiding konferensi, tesis, buku teks, dan artikel teknis yang dipublikasikan. Pemeriksa DJKI secara aktif menelusuri literatur non-paten selama pemeriksaan substantif karena banyak teknologi canggih dideskripsikan pertama kali di jurnal akademik sebelum dipatenkan.
3. Pengungkapan Publik — Mencakup produk komersial yang beredar di pasaran, demonstrasi publik, presentasi konferensi, video YouTube teknis, bahkan percakapan publik yang terdokumentasi. Pengungkapan publik sering kali menjadi prior art yang paling sulit dilacak namun paling sering diabaikan inventor.
Prior art yang dipublikasikan setelah tanggal filing tidak dapat membatalkan permohonan Anda. UU No. 13 Tahun 2016 Pasal 5 juga memberikan grace period 6 bulan: pengungkapan yang dilakukan oleh inventor sendiri dalam 6 bulan sebelum tanggal filing tidak dihitung sebagai prior art yang merusak kebaruan.
Pemeriksa DJKI melakukan prior art search independen selama tahap pemeriksaan substantif. Penelusuran yang Anda lakukan sendiri sebelum mendaftar berfungsi sebagai peta navigasi — hasil penelusuran menentukan apakah Anda mengajukan paten dengan klaim yang ada, memodifikasi klaim untuk membedakan diri dari prior art, atau menghentikan proses pendaftaran karena invensi sudah tidak baru.
Ringkasan: Prior art search adalah instrumen analitik — bukan formalitas — yang menentukan strategi klaim paten sejak awal proses pendaftaran. Hasil penelusuran yang sistematis mengurangi risiko penolakan di tahap pemeriksaan substantif.
Cara Menggunakan Google Patents untuk Penelusuran Prior Art Secara Efektif
Google Patents (patents.google.com) adalah database gratis yang mengindeks jutaan dokumen paten dari puluhan kantor paten di seluruh dunia, termasuk USPTO, EPO, WIPO, DJKI, dan kantor paten Asia-Pasifik. Google Patents tersedia tanpa biaya pendaftaran dan dapat diakses langsung dari browser.
Teknik Penelusuran Keyword di Google Patents
Keyword yang efektif untuk prior art search bukan nama produk atau merek — melainkan deskripsi teknis fungsional dari invensi Anda. Deskripsi teknis yang tepat menggunakan terminologi yang lazim dipakai dalam bidang teknik terkait, bukan bahasa pemasaran.
Langkah sistematis penelusuran di Google Patents:
- Masukkan query teknis — Deskripsikan fungsi utama invensi dengan 3–5 kata kunci teknis. Hindari kata generik seperti "alat" atau "sistem" tanpa kualifikasi spesifik.
- Filter berdasarkan CPC/IPC — International Patent Classification (IPC) adalah sistem klasifikasi paten internasional yang membagi teknologi ke dalam seksi, kelas, subkelas, dan grup. Masukkan kode IPC yang relevan (misalnya A61K untuk preparasi farmasi, atau H04L untuk transmisi data digital) untuk mempersempit hasil.
- Filter rentang tanggal — Tetapkan batas publikasi sebelum tanggal filing yang Anda rencanakan. Dokumen paten yang dipublikasikan setelah tanggal tersebut bukan prior art yang relevan terhadap permohonan Anda.
- Telusuri klaim, bukan hanya abstrak — Abstrak memberikan gambaran umum; klaim (claims) adalah bagian hukum yang menentukan ruang lingkup perlindungan. Bandingkan klaim independen dokumen prior art dengan elemen-elemen invensi Anda.
- Gunakan fitur "Similar patents" — Google Patents menyajikan dokumen serupa berdasarkan analisis semantik. Fitur ini membantu menemukan prior art yang tidak muncul dari pencarian keyword konvensional.
Membaca Nomor Publikasi Paten
Setiap dokumen paten memiliki nomor publikasi dengan format yang mencerminkan asal kantor paten. Kode negara di awali dua huruf: ID untuk Indonesia, US untuk Amerika Serikat, EP untuk Eropa, WO untuk PCT/WIPO. Nomor ini menjadi referensi yang Anda kutip dalam analisis prior art.
Ringkasan: Google Patents menyediakan akses gratis ke jutaan dokumen paten global; efektivitas penelusuran bergantung pada kombinasi keyword teknis, kode IPC yang tepat, dan analisis mendalam pada bagian klaim — bukan hanya abstrak.
Cara Menggunakan Patentscope WIPO dan PDKI DJKI untuk Cek Paten Nasional
Patentscope WIPO dan PDKI DJKI melengkapi Google Patents dengan cakupan yang berbeda. Penggunaan ketiganya secara paralel memberikan gambaran prior art yang lebih komprehensif daripada mengandalkan satu database saja.
Perbandingan Database Prior Art
| Database | Pengelola | Cakupan Utama | Gratis? | Keunggulan Khusus |
|---|---|---|---|---|
| Google Patents | Global: 100+ kantor paten | Ya | Full-text search, filter IPC/CPC, tampilan terjemahan otomatis | |
| Patentscope | WIPO | PCT internasional + 100+ kantor paten nasional | Ya | Data PCT paling lengkap; filter bidang teknis dengan IPC; laporan pencarian WIPO tersedia |
| PDKI DJKI | DJKI Indonesia | Paten nasional Indonesia (ID) | Ya | Satu-satunya database resmi paten Indonesia; mencakup permohonan yang belum dipublikasikan Google |
| Espacenet | EPO | Eropa (EP) + global 100M+ dokumen | Ya | Kualitas data EPO tinggi; filter ketat berdasarkan legal status; INPADOC family data |
Menggunakan Patentscope WIPO (patentscope.wipo.int)
Patentscope WIPO adalah database resmi untuk permohonan Patent Cooperation Treaty (PCT). PCT adalah jalur internasional yang memungkinkan inventor mengajukan satu permohonan yang berlaku di hingga 157 negara anggota. Patentscope mengindeks semua permohonan PCT yang dipublikasikan, termasuk laporan pencarian internasional (International Search Report/ISR) yang dibuat oleh International Searching Authority.
Butuh Bantuan Pembuatan Akta & Konsultasi Resmi?
Temukan dan konsultasikan berkas Anda langsung ke kantor Konsultan HKI terverifikasi di wilayah Anda melalui Jasa. Legal.
ISR dalam dokumen Patentscope sangat berharga: ISR berisi daftar prior art yang ditemukan oleh pemeriksa internasional, lengkap dengan kategori relevansi (X = sangat relevan, Y = relevan jika dikombinasikan, A = referensi umum). Membaca ISR dari permohonan PCT di bidang yang sama dengan invensi Anda memberikan petunjuk prior art yang sudah divalidasi pemeriksa profesional.
Menggunakan PDKI DJKI (pdki-indonesia.dgip.go.id)
PDKI (Pangkalan Data Kekayaan Intelektual) adalah database resmi DJKI yang mencakup seluruh permohonan paten yang diajukan di Indonesia. PDKI wajib ditelusuri untuk dua alasan spesifik: pertama, tidak semua paten Indonesia terindeks lengkap di Google Patents; kedua, permohonan yang baru diajukan memiliki lag time sebelum muncul di database internasional.
Penelusuran di PDKI menggunakan kata kunci Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris, nomor IPC, nama inventor, atau nama pemohon. Status legal setiap permohonan — aktif, ditolak, dibatalkan, atau telah berakhir masa berlakunya — tersedia di PDKI.
Ringkasan: Penelusuran prior art yang komprehensif wajib mencakup minimum tiga database: Google Patents untuk cakupan global, Patentscope untuk jalur PCT dan ISR yang tervalidasi, dan PDKI DJKI untuk dokumen paten nasional Indonesia yang belum tentu terindeks di database internasional.
Bagaimana Cara Membaca dan Menginterpretasikan Dokumen Paten yang Ditemukan?
Dokumen paten memiliki struktur standar yang berbeda dari jurnal ilmiah — memahami struktur ini menentukan apakah suatu dokumen benar-benar relevan sebagai prior art terhadap invensi Anda.
Anatomi Dokumen Paten
Setiap dokumen paten terdiri dari bagian-bagian berikut yang dibaca dengan prioritas berbeda:
Bibliographic Data (Halaman Depan) — Memuat nomor publikasi, tanggal filing, tanggal publikasi, nama inventor, nama pemohon (applicant), dan kode IPC. Tanggal filing adalah titik acuan temporal yang paling penting: prior art yang dipublikasikan setelah tanggal filing Anda tidak relevan untuk analisis kebaruan.
Abstract — Ringkasan 150–250 kata yang mendeskripsikan invensi secara umum. Abstract bukan bagian hukum — jangan gunakan abstract sebagai satu-satunya basis analisis relevansi.
Description (Deskripsi) — Bagian terpanjang dokumen yang menjelaskan latar belakang teknologi, masalah yang dipecahkan, dan cara kerja invensi. Deskripsi memberikan konteks teknis yang membantu Anda memahami klaim.
Claims (Klaim) — Inilah bagian hukum yang menentukan ruang lingkup perlindungan. Klaim independen (independent claims) mendefinisikan invensi dalam terminologi paling luas; klaim dependen (dependent claims) menambahkan fitur spesifik. Analisis prior art berfokus pada klaim independen.
Drawings (Gambar) — Representasi visual komponen dan hubungan antar-elemen invensi. Gambar membantu memahami aspek teknis yang sulit dideskripsikan hanya dengan teks.
Cara Menganalisis Relevansi Prior Art
Analisis relevansi prior art menggunakan pendekatan element-by-element comparison: bandingkan setiap elemen esensial dalam klaim independen dokumen prior art dengan elemen-elemen invensi Anda. Invensi Anda tidak baru jika semua elemen klaim independen suatu dokumen prior art ditemukan dalam invensi Anda — bahkan jika namanya berbeda atau bahan yang digunakan berbeda.
Pengungkapan implisit juga dihitung sebagai prior art: jika suatu proses yang dideskripsikan dalam dokumen prior art secara inheren menghasilkan hasil yang sama dengan invensi Anda, dokumen tersebut relevan meskipun tidak menyebutkan hasil tersebut secara eksplisit.
Ringkasan: Klaim independen adalah bagian yang menentukan relevansi hukum suatu dokumen prior art — pembacaan superfisial pada abstrak saja tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa suatu invensi aman dari prior art yang ada.
Apa yang Harus Dilakukan Jika Prior Art yang Relevan Ditemukan?
Penemuan prior art yang relevan bukan berarti proses harus dihentikan — prior art search yang menemukan dokumen relevan justru membuktikan penelusuran berjalan efektif. Langkah selanjutnya bergantung pada tingkat relevansi dokumen yang ditemukan.
Tiga Respons Strategis terhadap Prior Art
Respons 1: Modifikasi Klaim — Jika prior art menutupi aspek tertentu invensi Anda namun tidak semua elemen, klaim dapat dimodifikasi untuk menyoroti elemen-elemen yang membedakan invensi Anda. Diferensiasi yang valid secara teknis — bukan sekadar perubahan kosmetik — adalah dasar klaim yang dapat dipertahankan.
Respons 2: Fokus pada Improvement — Invensi yang merupakan penyempurnaan (improvement) dari teknologi yang sudah dipatenkan tetap dapat dipatenkan selama penyempurnaan tersebut mengandung langkah inventif (inventive step). Langkah inventif menilai apakah invensi tidak obvious bagi seseorang dengan keahlian biasa di bidang terkait.
Respons 3: Reorientasi Strategi Perlindungan — Jika prior art menutupi inti invensi secara substantif, perlindungan melalui paten mungkin tidak efektif. Strategi alternatif mencakup perlindungan sebagai rahasia dagang (trade secret), desain industri untuk aspek estetika, atau pengembangan invensi ke arah yang belum tercakup prior art.
Peran Konsultan Paten Terdaftar DJKI
Konsultan Paten terdaftar DJKI memiliki kompetensi teknis dan hukum untuk menginterpretasikan hasil prior art search secara profesional. Konsultan Paten menganalisis relevansi dokumen yang ditemukan, mengidentifikasi ruang klaim yang tersedia, dan menyusun strategi penyusunan klaim paten yang memaksimalkan perlindungan dalam koridor prior art yang ada.
Konsultan Paten juga berpengalaman dalam membaca ISR dari kantor paten internasional — dokumen yang sering kali memberikan panduan langsung tentang prior art paling relevan di bidang teknologi Anda. Keterlibatan Konsultan Paten sejak tahap prior art search — bukan hanya saat penulisan klaim — meningkatkan kualitas analisis secara signifikan.
Hasil prior art search yang terdokumentasi dengan baik juga berfungsi sebagai bukti itikad baik (good faith) dalam sengketa paten di kemudian hari. Catatan penelusuran yang sistematis menunjukkan bahwa inventor memahami lanskap teknologi yang ada sebelum mengklaim perlindungan eksklusif.
Ringkasan: Prior art yang ditemukan membuka tiga jalur strategis — modifikasi klaim, fokus improvement, atau reorientasi perlindungan — dan keterlibatan Konsultan Paten terdaftar DJKI sejak tahap ini menentukan arah strategi yang paling tepat sesuai kondisi prior art spesifik invensi Anda.
Temukan Layanan di Area Anda
Istilah Hukum Terkait
Artikel Terkait
Belum ada artikel terkait.